Kamis, 10 Februari 2011

Anggaran Mitigasi Bencana Bengkulu Rp7 Miliar

BENGKULU--MICOM: Badan Anggaran DPRD Provinsi Bengkulu menganggarkan dana mitigasi bencana sebesar Rp7 miliar dalam rancangan APBD 2011.

"Anggaran mitigasi bencana disetujui Rp7 miliar, karena daerah kami memang sangat rawan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami," kata Wakil Ketua DPRD Provinsi Bengkulu Helmi Hasan, di Bengkulu, Jumat (14/1).

Ia mengatakan dana tersebut sebagian besar akan digunakan untuk sosialisasi dan simulasi bencana gempa bumi dan tsunami khsususnya bagi masyarakat di pesisir pantai Barat Bengkulu.

Tujuh kabupaten dan kota yang berada di pesisir Pantai Barat, yakni Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Muko Muko, Bengkulu Tengah, Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kaur.

"Daerah pesisir ini harus menjadi prioritas karena, selain gempa bumi, masyarakat juga terancam tsunami," tambahnya.

Sebelumnya, Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu menghapuskan dana pembangunan gudang bencana senilai Rp40 miliar dari APBD 2011.

"Kami menghapuskan usulan dana Rp40 miliar untuk pembangunan gudang bencana karena tidak ada perencanaan yang jelas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah," kata Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu Parial.

Ia mengatakan, upaya mitigasi bencana sangat penting mengingat daerah Bengkulu merupakan kawasan rawan bencana gempa bumi dan tsunami karena berada di pertemuan lempeng Indoaustralia dan Eurasia.

Namun, pembangunan gudang logistik dinilai terlalu mubazir jika masyarakat tidak tanggap dan siap tentang apa yang harus dilakukan jika bencana terjadi.

"Pembangunan gudang memang penting, tapi yang lebih penting adalah kesiapan masyarakat menangani jika bencana terjadi, sehingga perlu dilakukan sosialisasi terus menerus dan simulasi gempa dan tsunami," katanya.

Pemerintah Provinsi Bengkulu berencana membangun 100 gedung evakuasi dan penyelamatan diri atau escape building di wilayah pesisir Pantai Barat yang padat penduduk sebagai langkah siaga bencana.

"Karena daerah kita memang rawan bencana gempa bumi dan tsunami maka mulai 2011 akan dimulai pembangunan gedung penyelamatan diri yang sekaligus berfungsi sebagai gudang logistik," kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu, Bambang.

Ia mengatakan gudang itu juga akan menampung persediaan logistik siaga bencana seperti bahan pangan, peralatan dapur umum, tenda, lampu badai, dan pembangkit listrik atau genset.

Program tersebut, kata dia, akan berlanjut hingga 2013, pemerintah provinsi menargetkan terdapat 1.000 gedung penyelamatan diri sekaligus gudang logistik siaga bencana.

Blog Pertolongan Pertama

Senin, 07 Februari 2011

BNPB

http://www.bnpb.go.id/website/asp/index.asp

BPBD Kepahiang: SEJARAH GEMPA BENGKULU

BPBD Kepahiang: KISAH GEMPA BENGKULU

SEJARAH GEMPA BENGKULU

Dari rentetan peristiwa tsunami, hampir dua tahun sekali terjadi tsunami, Jan juga memaparkan kondisi gempa Bengkulu dan sekitarnya. Gempa yang berulang dan lempeng yang terus bergerak secara kontinyu tanpa pernah berhenti sepanjang tahun. Terjadi pergeseran sesuai priode tertentu. Akibatnya, terjadi benturan yang merupakan sumber terjadinya gempa di dasar laut.

Bengkulu lanjut dia, pernah punya riwayat gempa besar skala 8,4 SR. Gempa tersebut terjadi tahun 1797 dan 1983 yang diiringi dengan tsunami kecil di Bengkulu Selatan dan Bengkulu Utara. Sesuai dengan priode maka gempa yang sama dipastikan akan dialami Bengkulu dalam priode waktu tertentu. Persoalannya, gempa tersebut belum berulang. Inilah yang dianalisa pakar bakal terjadi gempa.

Waktunya bisa lebih cepat atau lebih panjang, serta gempa dengan kekuatan tertentu yang berpeluang terjadi. Daerah Padang, Jambi, Lampung yang masuk perairan Samudera Hindia juga memiliki peluang yang sama. Karakter pergerakan lempengan Semangko ini berulang pada periode 70 tahunan. Seperti di Liwa terjadi tahun 1920 lalu, berulang kembali 1994.

Kalau dilihat dari riwayat gempa tanggal 24 November 1833 Bengkulu pernah dilanda tsunami dengan gempa berkekuatan 8 SR lebih selama 2 menit. Menurut para pakar, gempa bisa berulang 200 tahun sekali. Tapi hitungannya tidak matematis, bisa pas, lebih atau kurang. Enggano dan Lhokseumawe yang masuk bagian pantai Barat Sumatera memang termasuk daerah rawan gempa.

''Kita harus belajar dari sejarah untuk mengetahui bagaimana cara mengatasinya dan mengubah pola hidup kita. Perlu kita sadari gempa bumi dan tsunami adalah peristiwa alam yang terjadi tidak beraturan. Tapi selalu memberikan tanda-tanda, ungkap Jan lebih lanjut.

Gempa di Bengkulu Rabu(12/9) kata dia, memenuhi syarat terjadinya tsunami. Empat syarat utama dipenuhi yakni, kekuatan di atas 6,5 SR, episenter di bawah laut, kedalaman di bawah 30 km/lebih dangkal, mengandung cukup air yang dapat dipindahkan, serta gerakannya vertikal. Kelima syarat tersebut sudah terpenuhi. Hanya gerakannya saja yang tidak memenuhi syarat, dan ternyata kali ini Bengkulu terlewati.

Tsunami akan ditandai dengan tinggi gelombang yang meningkat dan terjadi secara berulang-ulang. Gelombang tsunami di Indonesia bukan seperti gelombang permukaan laut, melainkan pergerakan dasar laut.

Tapi tsunami di daerah Indonesia selalu diawali dengan laut yang surut, itu efek dari arus negatif yang bergerak. Beda dengan Srilanka yang tiba-tiba air tsunami datang seperti air bah. Sebab tidak ada tanda-tanda sama sekali, urai Jan lagi.rb(EF)